Malam semakin larut saat aku baru aja sampai di depan gerbang rumah ku.
"Heump, sepertinya kakak belum pulang."
Ku jatuhkan tas ranselku di atas tanah yang dingin, ku keluarkan serangkai kunci dari tas pinggang kecilku, ku putar salah satu kunci di lubang kunci gerbang.
"Heump, sepertinya kakak belum pulang."
Ku jatuhkan tas ranselku di atas tanah yang dingin, ku keluarkan serangkai kunci dari tas pinggang kecilku, ku putar salah satu kunci di lubang kunci gerbang.
Rumah yang selalu sepi ini hanya ku tinggali berdua
dengan kakak laki-lakiku. Sudah dua minggu aku dan kakak ku meninggalkan rumah
ini untuk menyelesaikan misi di tempat yg berbeda. Baru kali ini kami
mendapatkan tugas yang berbeda, sebelumnya kami selalu bersama. Menyelesaikan
misi-misi rahasia negara di berbagai tempat.
BRUG.. Aku menjatuhkan diri di atas sofa kesayanganku dan kakak.
"Haah, lelahnya!! Misi kakak sepertinya sulit, padahal kakak berangkat lebih dulu dariku." Aku melanjutkan aktifitas kesendirianku dengan membereskan barang-barang bawaan ku.
TING TOONG… bell rumah berbunyi.
“Owh, mungkin itu kakak. Jail sekali sampai membunyikan bell segala.” Aku tertawa ringan mengingat kakak tidak pernah melakukan hal itu. Segera ku raih pintu dan membukanya.
“Selamat malam Miss.Yoshioka.” seorang pria setengah baya berdiri di hadapanku. Pria yang ku kenal sebagai kapten di agensi tempat aku dan kakak biasa mendapatkan misi. Datang dengan dua orang yang ku ketahui sebagai bawahannya.
“Kapten!” segera ku beri hormat.
“Maaf kapten ada hal penting apakah yang mendorong anda kemari?” ku persilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Wajah kapten Houga tidak seperti biasa ku rasa, dia seperti seorang anak yang sedang menyembunyikan sebungkus permen kapas dari pandangan ibunya.
“Silakan duduk, mau ku ambilkan minum?”
“Tidak terimakasih, kami hanya sebentar di sini.” Kapten tersenyum agak berat.
Aku duduk tepat di hadapannya. Tak basa-basi ia lalu mulai melancarkan misinya mendatangi rumah ku malam ini. Terdengar hembusan berat nafas sang kapten di hadapan ku ini. Berbagai perasaan aneh berkelabat di benakku, sebenarnya ada apa ini??
“Aku membawa kabar tentang kakak mu.” Ungkapnya. Kaget. Perasaan ku semakin semerawut. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Sebenarnya misi yang kakak mu tangani kali ini cukup ringan, tapi terjadi kesalahan. Di luar dugaan ada pihak ke-tiga yang ikut campur dalam penyelesaiaan misi ini. Mereka menyabotase rancangan misi kita dan mengacaukan komunikasi agensi dengan klien kita. Misi seperti terhenti..” ia memngambil jeda yang cukup lama. Aku hanya bisa terdiam, seperti ada sentakan keras yang menyerbu dada ku.
BRUG.. Aku menjatuhkan diri di atas sofa kesayanganku dan kakak.
"Haah, lelahnya!! Misi kakak sepertinya sulit, padahal kakak berangkat lebih dulu dariku." Aku melanjutkan aktifitas kesendirianku dengan membereskan barang-barang bawaan ku.
TING TOONG… bell rumah berbunyi.
“Owh, mungkin itu kakak. Jail sekali sampai membunyikan bell segala.” Aku tertawa ringan mengingat kakak tidak pernah melakukan hal itu. Segera ku raih pintu dan membukanya.
“Selamat malam Miss.Yoshioka.” seorang pria setengah baya berdiri di hadapanku. Pria yang ku kenal sebagai kapten di agensi tempat aku dan kakak biasa mendapatkan misi. Datang dengan dua orang yang ku ketahui sebagai bawahannya.
“Kapten!” segera ku beri hormat.
“Maaf kapten ada hal penting apakah yang mendorong anda kemari?” ku persilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Wajah kapten Houga tidak seperti biasa ku rasa, dia seperti seorang anak yang sedang menyembunyikan sebungkus permen kapas dari pandangan ibunya.
“Silakan duduk, mau ku ambilkan minum?”
“Tidak terimakasih, kami hanya sebentar di sini.” Kapten tersenyum agak berat.
Aku duduk tepat di hadapannya. Tak basa-basi ia lalu mulai melancarkan misinya mendatangi rumah ku malam ini. Terdengar hembusan berat nafas sang kapten di hadapan ku ini. Berbagai perasaan aneh berkelabat di benakku, sebenarnya ada apa ini??
“Aku membawa kabar tentang kakak mu.” Ungkapnya. Kaget. Perasaan ku semakin semerawut. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Sebenarnya misi yang kakak mu tangani kali ini cukup ringan, tapi terjadi kesalahan. Di luar dugaan ada pihak ke-tiga yang ikut campur dalam penyelesaiaan misi ini. Mereka menyabotase rancangan misi kita dan mengacaukan komunikasi agensi dengan klien kita. Misi seperti terhenti..” ia memngambil jeda yang cukup lama. Aku hanya bisa terdiam, seperti ada sentakan keras yang menyerbu dada ku.
***
“KAKAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!”
teriak ku.
“Ada apa adikku sayaaang?” suara jahilnya mendengung di telingku.
“Kembalikan CD Bon Jovi kuuuuu. Hiks Hiks..” Aku merengek dan menangis sejadi-jadinya di lorong rumah depan pintu kamar kakakku.
“Ahahahahaa, kau ini lucu sekali.” Ia malah menggoda ku, berteriak dari dalam kamarnya.
“Kakak aku serius, kalau tak kau kembalikan aku akan pergi dari rumah dan kau takkan pernah merasakan ice lemon buatan ku lagi!!” Teriakku. Ruka kecil yang sudah suka music rock ini hanya bias terduduk di lantai sambil terus menendang-nendang pintu kamar sang kakak.
CEKLIK. Pintu kamar terbuka, kelurlah lelaki tinggi bertubuh tegap dengan senyum manis yang mengembang. Lalu ia berjongkok di depan ku.
“Ruu-chan, jangan begitu. Kakak masih ingin minum ice lemon buatan mu, maafkan kakak meminjamnya saat Ruu-chan sedang tak di rumah. Maukan memaafkan kakak?” ia tersenyum semakin manis. Dari dulu aku sudah tidak tahan dengan senyumannya yang seperti kembang gula. Begitu hangat, penuh rasa sayang, dan seperti membentengi ku dari segala yang ingin mengganggu ku. Aku hanya bias terisak di hadapannya yang begitu tulusnya tersenyum pada ku.
“Sayang, mau ya memaafkan kakak mu ini?” senyumnya semakin hangat saja. Ia menghapus air mataku dengan kedua tangannya yang hangat, lalu mengelus kedua pipi ku yang menjadi merah karena menangis. Masih setengah menangis aku pun mengangguk. Kakak tersenyum pada ku semakin lebar lalu memelukku erat.
“Maaf membuat mu menangis.” Ucapnya pelan di telingaku. Aku balik memeluknya.
“Lalu cd ku mana?” masih terisak-isak kecil. Ia melepas pelukannya perlahan.
“Ini.” Masih dengan senyumannya yang amat ku sukai, ia meraih sekeping cd yang ia letakkan di lantai di samping tempat ia berjongkok lalu menyerahkannya pada ku. Aku segera meraihnya dengan gembira.
“Terimakasih kakak sudah menjaganya dengan baik.” Aku pun tersenyum. Ia tersenyum melihatku lalu mengelus-elus rambut sebahuku, senyum hangatnya semakin lebar. Aku benar-benar menyayangi kakakku.
“Ada apa adikku sayaaang?” suara jahilnya mendengung di telingku.
“Kembalikan CD Bon Jovi kuuuuu. Hiks Hiks..” Aku merengek dan menangis sejadi-jadinya di lorong rumah depan pintu kamar kakakku.
“Ahahahahaa, kau ini lucu sekali.” Ia malah menggoda ku, berteriak dari dalam kamarnya.
“Kakak aku serius, kalau tak kau kembalikan aku akan pergi dari rumah dan kau takkan pernah merasakan ice lemon buatan ku lagi!!” Teriakku. Ruka kecil yang sudah suka music rock ini hanya bias terduduk di lantai sambil terus menendang-nendang pintu kamar sang kakak.
CEKLIK. Pintu kamar terbuka, kelurlah lelaki tinggi bertubuh tegap dengan senyum manis yang mengembang. Lalu ia berjongkok di depan ku.
“Ruu-chan, jangan begitu. Kakak masih ingin minum ice lemon buatan mu, maafkan kakak meminjamnya saat Ruu-chan sedang tak di rumah. Maukan memaafkan kakak?” ia tersenyum semakin manis. Dari dulu aku sudah tidak tahan dengan senyumannya yang seperti kembang gula. Begitu hangat, penuh rasa sayang, dan seperti membentengi ku dari segala yang ingin mengganggu ku. Aku hanya bias terisak di hadapannya yang begitu tulusnya tersenyum pada ku.
“Sayang, mau ya memaafkan kakak mu ini?” senyumnya semakin hangat saja. Ia menghapus air mataku dengan kedua tangannya yang hangat, lalu mengelus kedua pipi ku yang menjadi merah karena menangis. Masih setengah menangis aku pun mengangguk. Kakak tersenyum pada ku semakin lebar lalu memelukku erat.
“Maaf membuat mu menangis.” Ucapnya pelan di telingaku. Aku balik memeluknya.
“Lalu cd ku mana?” masih terisak-isak kecil. Ia melepas pelukannya perlahan.
“Ini.” Masih dengan senyumannya yang amat ku sukai, ia meraih sekeping cd yang ia letakkan di lantai di samping tempat ia berjongkok lalu menyerahkannya pada ku. Aku segera meraihnya dengan gembira.
“Terimakasih kakak sudah menjaganya dengan baik.” Aku pun tersenyum. Ia tersenyum melihatku lalu mengelus-elus rambut sebahuku, senyum hangatnya semakin lebar. Aku benar-benar menyayangi kakakku.
つづく
Tidak ada komentar:
Posting Komentar